Analisis Ketangguhan dan Patahan Baja St 60 Akibat Perubahan Temperatur dan Sudut Impak

Pada era global ini penggunaan logam semakin berkembang pesat. Dalam pengaplikasianya bahan logam tersebut seringkali digunakan atau dioperasikan dilingkungan bertemperatur ekstrim, sangat tinggi maupun rendah. Kepekaan terhadap patah getas adalah masalah besar pada kontruksi baja. Material dapat dengan mudah menjadi getas atau patah pada temperatur yang rendah meskipun dalam kondisi normal logam itu ulet. Gejala ini dikenal dengan sebagai Transisi ulet getas (Ductile to brittle transition). Dalam penelitian ini akan dikaji mengenai pengaruh suhu dingin dan variasi sudut impak pada baja St 60 terhadap ketangguhan kejut dengan menggunakan uji impak. Temperatur yang digunakan ialah 28°C (suhu kamar) dan -20°C (perlakuan dingin menggunakan dry ice). Sedangangkan sudut impak yang digunakan yaitu α = 60°, α = 90° dan α = 120°.

Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif. Sedangkan desain penelitiannya adalah penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Analisis deskriptif menjabarkan perbandingan spesimen yang diberi perlakuan dan tanpa perlakuan menggunakan bantuan sofware microsoft excel. Objek yang dipakai pada penelitian ini adalah  baja karbon sedang St 60.

Selisih rata-rata energi yang diserap oleh spesimen baja St 60 yang di treatment menggunakan dry ice dan non treatment pada sudut impak α = 60° yaitu 0,025 Joule, pada sudut impak α = 90° yaitu 0,009 Joule dan pada sudut impak α = 120° yaitu 18,0822 Joule masing-masing lebih besar dimiliki oleh spesimen non treatment pada suhu 28°C dibandingkan dengan yang di treatment menggunakan dry ice dengan suhu -20°C. Sehingga energi rata-rata yang diserap lebih banyak pada spesimen non treatment. Dapat disimpulkan bahwa temperatur berpengaruh terhadap ketangguhan spesimen baja St 60, semakin rendah temperatur maka keuletan dan ketangguhannya semakin berkurang pula. Besarnya sudut impak juga berpengaruh terhadap energi serap dan nilai impak spesimen baja St 60. Semakin besar sudut impak maka semakin besar pula nilai impak dan energi serapnya, sehingga semakin besar sudut impak  maka semakin parah kerusakan yang ditimbulkan. Jenis perpatahan spesimen baja St 60 yang di treatment menggunakan dry ice yaitu perpatahan kristalin, sedangkan spesimen yang non treatment perpatahan berserat. Hal ini sesuai dengan fenomena ductile to brittle transition karena pengaruh suhu yang rendah (-20 0C).

 

Trisasmita, Agus. 2014. Analisis Ketangguhan dan Patahan Baja St 60 Akibat  Perubahan Temperatur dan Sudut Impak. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Siswanto, M.A., (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D